Merayakan Ulang Tahun Dalam Kemewahan Nusantara

Selalu ada perayaan dalam setiap ulang tahun, baik besar ataupun kecil. Hanya saja, tidak semua orang tahu cara merayakan ulang tahun dengan cara elegan dan dengan balutan kemewahan nusantara.

Tradisi merayakan ulang tahun telah lazim dilakukan oleh masyarakat dunia sejak ribuan tahun yang lalu. Awal perayaan ulang tahun adalah untuk raja dan dewa. Di zaman Mesir Kuno, tanggal kelahiran Raja Firaun dirayakan berulang-ulang setiap tahunnya. Maklum, masa itu Firaun dianggap masyarakat Mesir Kuno sebagai perwujudan dari Dewa. Tak jauh berbeda yang dilakukan oleh bangsa Yunani, ketika bulan purnama tiba, mereka mempersembahkan kue berbentuk bulan untuk Dewi Artemis dengan beberapa lilin di atas kue. Lilin adalah refleksi cahaya bulan dan kecantikan. Akhirnya tradisi ini dipakai banyak orang untuk merefleksikan ulang tahun sebagai awal kehidupan baru yang lebih bersinar.

Di abad ke-12, bangsa Romawi juga mulai merayakan ulang tahun. Meskipun hanya laki-laki yang boleh merayakan ulang tahun, pada saat itu sudah dikenal tradisi memberi kado. Pada masa itu, kado yang berharga adalah tepung terigu, minyak zaitun, madu, dan keju.

Perayaan ulang tahun mulai menyebar ke seluruh dunia di abad ke-18. Di Eropa, ulang tahun dirayakan sebagai salah satu cara untuk menjaga mereka dari hal-hal yang jahat. Orang yang berulang tahun mengundang teman-teman dan keluarga untuk memberikan doa serta pengharapan yang baik bagi yang berulang tahun. Memberikan kado juga dipercaya dapat memberikan rasa gembira bagi orang yang berulang tahun sehingga dapat mengusir hal-hal jahat tersebut.

IMG_0640
Red Carpet NET. 3.0

Memberikan rasa gembira dalam kemewahan nusantara, niatan itulah yang membawa Bakmi Mewah, bakmi siap saji dengan daging ayam dan jamur asli pertama di Indonesia ikut merayakan ulang tahun NET. yang ke-3 sebagai sponsor utama. Seperti yang kita ketahui, NET. (singkatan dari News and Entertainment Television) adalah sebuah stasiun televisi swasta terestrial nasional di Indonesia yang resmi mengudara pada 26 Mei 2013.

poster-net
Poster NET. 3.0

Seperti halnya di ulang tahun pertama dan kedua, NET. kembali mengundang penyanyi internasional. Setelah Far East Movement, Ne-Yo, Demi Lovato, dan Karmin, di perayaan ulang tahun ketiga NET. mengundang penyanyi internasional Jessie J, Dawin, dan Omi. Bertempat di Sentul International Convention Center (SICC), acara bertajuk NET. 3.0 (Indonesian Choice Award 2016) ini sangat seru dan penuh dengan balutan kemewahan nusantara.

Bakmi Mewah, produk mie cepat saji terbaru yang inovatif dari PT Mayora Indah Tbk. mendukung penuh acara ini. Alasannya tak lain, karena visi dan misi NET. sejalan dengan misi Bakmi Mewah yang ingin menjadi produk cepat saji yang inovatif dan breakthrough dan menjadi bagian dari gaya hidup modern yang dinamis.

IMG_0646
Lorong Menuju Lounge Bakmi Mewah

Tiga jam sebelum acara NET 3.0 dimulai, di lounge Bakmi Mewah digelar acara Bakmi Mewah Grande Moment yang menjadi puncak dari peluncuran Bakmi Mewah di Indonesia. Ketika pertama kali kaki melangkah masuk, saya terkagum-kagum dengan desain lounge Bakmi Mewah. Perpaduan warna hitam dan kuning keemasan membuat lounge ini sangat mewah. Berdasarkan psikologi warna, kuning keemasan melambangkan keagungan, kemewahan, dan kemegahan. Sedangkan warna hitam melambangkan ketegasan dan kekuatan yang solid.

IMG_0647
Panggung di Lounge Bakmi Mewah

Lounge Bakmi Mewah mengingatkan saya pada konsep dalam film Great Gatsby yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio. Konsep yang sama kebetulan juga digunakan saat kantor saya merayakan ulang tahun ke-15 bulan November lalu.

IMG_0676
Indy Barends Memandu Acara

Setelah menunggu kurang lebih satu jam, Indy Barends yang juga merupakan Brand Ambassador Bakmi Mewah membuka acara dengan gayanya yang khas: lincah dan spontan. Indy mengaku, sebagai public figure yang sangat sibuk shooting dan menjadi MC, ia butuh penganan yang cepat tapi berkualitas. Dan Bakmi Mewah adalah jawabannya. Baginya, Bakmi Mewah adalah satu-satunya produk bakmi cepat saji yang bisa membuktikan bahwa bakmi ala restoran bisa disajikan dengan mudah dan cepat tanpa harus memangkas kualitas dan bisa mengedepankan kemewahan nusantara.

IMG_0661
Chef Billy Karangi dan Chef Aiko Sarwosri Diwawancarai Media

Duo chef ternama Indonesia, Chef Billy Karangi dan Chef Aiko Sarwosri yang hadir pada acara tersebut ikut merekomendasikan Bakmi Mewah. “Bakmi pada Bakmi Mewah sangat kenyal dan legit. Ini karena perpaduan antara tepung dan telur yang seimbang dan tepat,” jelasnya. Ia menambahkan, “Potongan daging ayamnya kotak-kotak dan konsisten, seperti kualitas restoran. Bakmi Mewah tidak menggunakan penguat rasa buatan.”

IMG_0700
Drama Musikal Bakmi Mewah yang Melibatkan Chef Billy, Chef Aiko, dan Sonia Wibisono

Senada dengan Chef Billy, si cantik Chef Aiko yang banyak mendalami masakan khas Indonesia mengaku kagum pada Bakmi Mewah sebagai bagian dari kemewahan nusantara. “Sebagai pecinta kuliner Indonesia, saya sangat mengagumi inovasi yang ditawarkan Bakmi Mewah. Aromanya sangat menggugah selera,” ungkapnya antusias.

IMG_0713
Menikmati Bakmi Mewah

Sambil menyimak drama musikal unik yang liriknya berisi keunggulan Bakmi Mewah, untuk kali kedua saya mendapat kesempatan untuk menikmati Bakmi Mewah. Tak berubah, Bakmi Mewah tetap menjadi bakmi siap saji terlezat yang pernah saya rasakan. Dengan taburan daging ayam dan jamur asli, Bakmi Mewah memang mengantarkan penikmatnya menuju kemewahan nusantara. Tak salah jika saya menggilai produk dari Mayora sejak kecil.

Sekitar pukul 18.00 WIB, acara di lounge Bakmi Mewah pun berakhir. Saya sempat diminta testimonial tentang kesan menyantap Bakmi Mewah dalam bentuk video. Setelah itu, sebagai salah seorang tamu VVIP, saya dipandu oleh kru NET. untuk masuk ke auditorium SICC karena acara puncak NET. 3.0 akan segera dimulai.

IMG_0724
NET. memang jagonya bikin set desain panggung yang kece

Meskipun tubuh masih lemah karena saya baru saja selesai dirawat di rumah sakit, rasa lelah berganti bahagia. Kapan lagi saya bisa menyaksikan Jessie J, Omi, Dawin, Kahitna, Raisa, dll. secara Live dan GRATIS selain di NET. 3.0. Selain itu, menikmati Bakmi Mewah juga menjadi mood booster tersendiri. Rasanya yang nikmat seakan mampu menghapus lelah dan duka lara. Sangat wajar jika di salah satu modern market di wilayah Depok, Bakmi Mewah pernah habis terjual sebanyak 150 kardus dengan 3.600 kemasan dalam waktu hanya satu jam.

IMG_0739
Penampilan dari Omi membawakan “Cheerleader”

Sepulang dari NET. 3.0, terbersit satu ide di pikiran saya untuk menjadikan Bakmi Mewah sebagai hidangan di hari ulang tahun saya tahun depan. Murah, meriah, tapi mewah dan membawa kemewahan nusantara. #PelitUnited

Advertisements

Filosofi Kopi the Movie: Universalnya Kopi dan Dinamika Interaksi Antara Ayah dan Anak

Filosofi Kopi the Movie: Universalnya Kopi dan Dinamika Interaksi Antara Ayah dan Anak

Secangkir kopi ibarat pelajaran bahasa: terdapat aturan, ilmu, dan retorika. Bagi sebagian besar orang, kopi bukan sekadar minuman penghangat. Ia adalah media komunikasi. Sebab secangkir kopi bisa menjadi bahasa yang universal. Kopi dianggap bisa menyampaikan banyak pesan pada orang lain, meskipun mereka berbangsa, berbahasa, berkultur, dan berlatar berbeda.

Itulah salah satu hal mendasar yang bisa saya tangkap dalam Filosofi Kopi the Movie. Film ini merupakan sebuah film layar lebar Indonesia terbaru yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, yang diadaptasi dari cerita pendek karya Dewi Lestari berjudul sama.

Tapi apakah Filosofi Kopi the Movie melulu berbicara tentang kopi?

Featured image

Filosofi Kopi the Movie berkisah tentang kedai Filosofi Kopi yang didirikan oleh dua sahabat, Jody (diperankan oleh Rio Dewanto) dan Ben (Chikho Jerikho). Interaksi antara Jody dan Ben menekankan harmonisasi dan ketergantungan antara mereka. Hanya saja, mereka juga sama-sama terdampar dalam satu masalah klasik: hilangnya kepercayaan terhadap sang ayah.

Terlahir dari keluarga keturunan Tionghoa yang gemar berdagang, Jody tak hanya mewarisi toko kelontong dari mendiang sang ayah, namun hutang sebesar delapan ratus juta rupiah. Sedangkan Ben, barista jenius asal Lampung yang penuh pesona, adalah anak laki-laki dari seorang petani kopi yang terpaksa ia tinggalkan karena ia anggap telah membunuh ibunda tercintanya.

Agaknya kesamaan itulah yang membuat Jody dan Ben begitu dekat. Terlebih Ben telah menjadi bagian dari keluarga besar Jody sejak usia 12 tahun, dimana Ben ditampung dan disekolahkan. Hanya saja, di tengah harmonisasi serta perjuangan mereka mengatasi hutang, mereka terbelit konflik yang cukup pelik. Mulai dari hal-hal seputar materi, kehadiran tokoh El (Julie Estelle) – love interest bagi Jody dan Ben, hingga tantangan membuat kopi berhadiah satu milyar dari seorang pengusaha properti.

Pada akhirnya, kopi jualah yang menjaga harmonisasi interaksi antara Ben dan Jody. Keuniversalan dan keunikan kopi memang sulit untuk dilawan. Seperti halnya kekuatan cinta bagi pemujanya.

Bila boleh menyimpulkan, gagasan besar dalam film Filosofi Kopi the Movie ini adalah agenda bonding antara ayah dan anak, cara melepaskan diri dari jeratan masa lalu, serta kecenderungan kuat dalam mengolah masalah menjadi sebuah konsep win-win solution.

Bagi yang ingin tontonan ringan, Filosofi Kopi the Movie nampaknya akan memuaskan siapa saja penontonnya. Pesona cerita dan kualitas akting para pemerannya akan memberikan sensasi rekreasi yang tak terlupakan.

PS:

Menilik karakter Jody dan caranya menanggapi kesusahannya yang tak putus-putus, saya jadi teringat sosok Tevye di film klasik Fiddler on the Roof yang berujar kepada Tuhan: “I know, I know. We are Your chosen people. But, once in a while, can’t You choose someone else?

Review Buku “absurdity,” – Sebuah Arisan dan Independensi

Review buku absurdity, ini saya buat tanpa sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Sebab saya lebih suka memaksa daripada dipaksa.

Buku absurdity, ini sebenarnya hasil dari bentuk “paksaan” saya kepada penulisnya. Meskipun hanya sempat beberapa minggu menjadi rekan kerjanya di sebuah perusahaan industri kreatif, saya tahu, si penulis berpotensi untuk menerbitkan buku. Minimal buku Yasin. Mudah saja baginya membuat saya jatuh cinta pada tulisan-tulisannya yang tajam namun mengalir lancar. Oleh karena itu, tanpa malu-malu saya langsung mengatakan, “Fik, lo harus bikin buku!

Abad ke-20 bisa dikatakan sebagai Abad Menerbitkan Buku. Mereka yang sedikit-sedikit bisa menulis mulai berani mengirimkan tulisan-tulisan alakadarnya ke penerbit. Bak gayung bersambut, penerbitpun senang menerima karya-karya alakadarnya itu. Penulis senang karya mereka diterbitkan. Penerbit senang ada produk yang dijual. Untungnya, masyarakat yang tidak-doyan-membaca-tapi-belagak-suka juga berboyong-boyong membelinya. Win-win solution!

Buku absurdity, karya perdana dari Fikri.
Buku absurdity, karya perdana dari Fikri.

Sayangnya, absurdity, adalah sebuah pengecualian. Tak hanya sering ditolak lawan jenis, kali ini Fikri juga mendapat penolakan dari penerbit. Bukan karena Fikri terlalu baik, namun penolakan tersebut dilandasi ketidaksesuaian jumlah pengikut di media sosial dengan ‘idealisme pemasaran’ sang penerbit. Hingga akhirnya, saya salut dengan kegigihan Fikri untuk menerbitkan secara independen buku absurdity, yang katanya baru volume pertama ini.

Dalam volume pertama, saya mengibaratkan absurdity, semacam arisan ibu-ibu sosialita. Jika di dalam arisan, selalu terjadi pertemuan sekumpulan orang yang kemudian adu pamer alih-alih silaturahmi, maka dalam absurdity, Fikri ‘memamerkan’ keluguannya semasa kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Sesekali saya merasakan kemewahan dari buku ini, yang menyajikan indahnya masa-masa kuliah, bingungnya saat jatuh cinta, hingga pengalaman-pengalaman ‘cacat’ yang bisa mengundang tawa.

Mengutip seorang filsuf pemenang hadiah Nobel yang sangat berpengaruh di abad ke-20 bernama Albert Camus,

“Accepting the absurdity of everything around us is one step, a necessary experience…”

Berkaca dari kutipan tersebut, itulah Fikri dengan absurdity,-nya, yang dengan lancar menceritakan ke-absurd-an di sekelilingnya.

Buku absurdity, bisa jadi sebuah surga bagi pecinta Yogyakarta (tentu minus Florence-nya), penyuka perempuan yang ternyata juga dicintai laki-laki di berbagai kota, dan penikmat untaian kata yang memesona.

Jika ingin merasakan kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan oleh absurdity, maka sila memesannya di sini atau memesannya secara langsung melalui penulisnya di nomor kontak Whatsapp 08179802125 atau via Line dengan ID “hiumacan”.

Kopiko 78, Coffee Latte ala Mayora

Kopiko 78 apa sih? Saat pertama kali mendengar namanya, tentu saja pikiran saya langsung mengasosiasikan dengan produk permen. Maklum, sepengetahuan saya Kopiko adalah produk permen kopi yang diproduksi oleh PT Mayora Indah Tbk. yang sudah mendunia. Tagline dari Kopiko yaitu “Gantinya Ngopi” yang sempat populer di era 90an itu menguatkan Kopiko sebagai merek permen kopi dengan sejarah panjang.

Image

Tapi penyematan angka “78” di belakang merek Kopiko tentunya membuat kita bertanya-tanya, “Sebenarnya Kopiko 78 ini produk apa sih? Satu permen baru lagi dari Mayora?”

Seorang teman menceritakan kepada saya bahwa Kopiko 78 adalah produk minuman kopi dari Mayora. DNA-nya tetap kopi. Kali ini bukan permen, tapi produk kopi siap minum (Ready To Drink). Tentu saja ini menarik. Ketika selama ini kita mengenal Kopiko adalah permen yang diklaim sebagai gantinya minuman kopi, malah sekarang hadir Kopiko 78 yang berwujud kopi. Sepertinya ini salah satu strategi Mayora dalam mengadaptasi perkembangan dan persaingan merek-merek kopi siap minum yang bertebaran di pasaran.

Bagaimana rasanya? Basically, saya bukan penyuka kopi. Jadi saya tidak tertarik mencobanya. Tapi setelah seorang teman menyodorkan kepada saya sebotol Kopiko 78 dingin, saya langsung berubah pikiran. Hehehe…

Bentuk kemasannya cukup ergonomis, kokoh, dan tidak mudah lepas dari tangan. Ukurannya yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil juga membuat Kopiko 78 cocok untuk dibawa kemana saja.

Nah, ini bagian terpenting, yaitu rasa. Kopiko 78 memiliki rasa kopi yang enak. Manisnya pas. Bayangkan saja kamu sedang mengemut permen Kopiko dan permen itu meleleh di lidahmu. Kekuatan Kopiko 78 tak hanya pada kopinya, tapi juga pada susunya yang kental. Hanya saja, Kopiko 78 akan terasa nikmat bila diminum dalam keadaan dingin. Jadi jika bersisa, sebaiknya segera disimpan dalam lemari pendingin.

Jadi, kalau kamu pecinta kopi, monggo dicoba Kopiko 78 yang memiliki tagline “Perfect Latte Like Never Before” ini.

Foto dari http://goo.gl/3Qdj5

UPDATE:
Sejak 1 April 2013 lalu, iklan komersial untuk Kopiko 78 sudah tayang di hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia. Cukup menarik konsepnya, yaitu mengenalkan arti “78 Derajat Celsius” kepada masyarakat sebagai titik optimal dalam pengolahan kopi. Ini dia tayangan iklan komersial dari kopi cair siap minum Kopiko 78 yang di pasaran dibandrol harganya mulai dari Rp. 5.000:

Konser Chicago di Indonesia: Hanyut Dalam Nostalgia Masa Kecil

Konser Chicago di Indonesia punya arti penting bagi hidup gue. Selain sebagai tanda tercapainya salah satu impian masa kecil, konser Chicago di Indonesia yang diadakan di Plenary Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu (27/10) malam lalu berhasil bikin gue menangis terharu karena hanyut dalam nostalgia akan lagu-lagu mereka seperti If You Leave Me Now, You’re the Inspiration, dan Hard To Say I’m Sorry.

ImageKonser Chicago di Indonesia ini adalah kali kedua. Sebelumnya Robert Lamm, Lee Loghnane, James Pankow, Lou Pardini, Jason Scheff, Tris Imboden, dan Keith Howland pernah menggelar konser tunggal di Indonesia pada tahun 1993 silam. Saat itu, Chicago masih digawangi Bill Champlin sebagai gitaris.

Gue sendiri kenal dengan Chicago waktu duduk di bangku sekolah dasar. Nyaris setiap pagi sebelum berangkat sekolah gue ‘dipaksa’ ikut mendengarkan lagu-lagu Chicago, terutama Song For You. Tak heran, lagu ini berulang-ulang diputar karena lagu ini punya kenangan khusus bagi bapak dan ibu gue saat masih berpacaran dulu. :’)

Awalnya gue pikir penonton konser Chicago di Indonesia ini adalah Om-Om dan Tante-Tante usia kepala lima seperti halnya bapak gue. Tapi setelah masuk hall, ternyata banyak juga yang seumuran. Yah, meskipun kepala tiga, tetap usia Om-Om juga sih.

Konser Chicago di Indonesia dimulai sekitar pukul 8 malam. Tata panggung yang minimalis dengan set yang sederhana membuat konser ini tak tampak seperti konser sebuah band legendaris. Untuk keyboard, Robert Lamm hanya menggunakan Yamaha Motif sedangkan Lou Pardini membawa serta Hammond XK-3 miliknya.

Tapi saat lagu pertama dimainkan, terasa sekali aura legendaris band yang berdiri sejak 1967 ini. Membawakan Make Me Smile, Colour My World, To Be Free, dan Now More Than Ever secara medley, konser Chicago di Indonesia ini berhasil menyesapkan nuansa haru biru dalam dada gue.

Setelah sesi medley dan beberapa lagu gue-gak-hafal-judulnya dimainkan, Lou Pardini, vokalis sekaligus keyboardist Chicago menyapa para penonton.

“We love coming back here,” serunya. We love you too, Lou!

Tak lama kemudian, Chicago membawakan Call On Me dan lagu yang sukses membawa mereka meraih Grammy Award tahun 1977 untuk kategori Best Pop Performance by a Duo or Group, If You Leave Now. Saat lagu yang diciptakan eks anggota Chicago, Peter Cetera itu dimainkan, Plenary Hall mendadak jadi ruang karaoke raksasa.

Tak puas mengaduk-aduk perasaan penonton, Chicago langsung membawakan Hard Habit To Break, Saturday In the Park, You’re The Inspiration, dan Hard To Say I’m Sorry. Di dua lagu terakhir, emosi penonton kembali terguncang karena hanyut dalam nostalgia. Dan gue sempat-sempatnya menitikkan airmata.

Namun, jujur saja, pilihan repertoar yang disajikan oleh Chicago malam itu gak banyak yang gue tahu. Hits internasional seperti Baby What A Big Surprise, You Came To My Sense, dan Song For You pun tidak dibawakan. Tapi konser Chicago di Indonesia ini tetap luar biasa karena merasa bangga bisa melihat aksi enerjik para personel band asal Amerika Serikat. Penonton lain pun gue lihat sangat antusias. Buktinya, jelang 20 menit konser berakhir, penonton di bagian depan mendadak maju mendekati panggung untuk bernyanyi dan berjoget mengikuti iringan lagu sambil foto-foto.

Konser Chicago di Indonesia bertajuk Chicago Live in Concert 2012 ini ditutup dengan dua lagu tambahan, yaitu Free dan 25 Or 6 To 4.

Sebagai penonton gue berpendapat konser Chicago di Indonesia ini sukses. Enesha Entertainment berhasil membawa band legendaris itu untuk menghipnotis kaum remaja hingga kaum tua dengan lagu-lagu mereka yang abadi.

Jika boleh menilai, Chicago adalah band yang susah move-on. Ketika ditinggal bassis dan vokalis Peter Cetera pada tahun 1985, Chicago menggaet Jason Scheff. Chicago sengaja memilih pria kelahiran 16 April 1962 itu karena punya kemampuan impersonasi pada karakter vokal Cetera yang melegenda. Memang, Scheff cukup lebih baik saat membawakan lagu-lagu dengan beat cepat, tapi untuk urusan lagu-lagu balada yang manis, Peter Cetera tetap jagonya.

Tapi semua tergantung selera, bukan?

Konser Casiopea di Indonesia: Tercapainya Impian Masa Kecil

Konser Casiopea di Indonesia baru saja berakhir Minggu malam (30/09) lalu. Akhirnya salah satu impian masa kecil gue tercapai.

Bisa menyaksikan langsung Akira Jimbo, Issei Noro, Yoshihiro Naruse, dan Otaka Kiyomi beraksi di atas panggung, it’s such a great moment in my life. Even over 36 years, Casiopea still has amazing music that being important staple in my life.

Image

Photo courtesy of http://www.casiopea.co.jp

Konser Casiopea di Indonesia yang bertajuk “Casiopea 3rd Live” ini diadakan di Skenoo Hall, Gandaria City Mall. Cukup menarik mengetahui ada hall cukup megah di lantai 3 sebuah pusat perbelanjaan dan bisa diadakan untuk pertunjukan konser musik.

Gue sempat berpikir, konser Casiopea di Indonesia ini hanya akan disaksikan oleh para orang tua atau pria-wanita paruh baya. Maklum, musik yang dianut Casiopea termasuk segmented music alias tak banyak yang menggemarinya, unless people who really love good music. Ternyata di di lokasi acara, banyak juga anak-anak muda (17-25 tahun) yang bergerombol di sekitar venue untuk menyaksikan Casiopea.

Gue sendiri mendengarkan Casiopea saat duduk di bangku SMA. Awalnya hanya terkagum-kagum dengan komposisi mengagumkan di lagu “Galactic Funk”. Karena jatuh cinta pada pendengaran pertama itulah lalu akhirnya gue mulai berburu kaset band yang berdiri sejak 1976 itu saat merantau kuliah ke Bandung. Bahkan sempat-sempatnya dulu gue menyisihkan uang saku untuk belajar piano jazz dengan harapan bisa sejago mereka. Jadi “Jagoan Neon” sih iya.

Selama kurang lebih 12 tahun gue memendam kekaguman kepada Casiopea, gue bersorak kegirangan saat tahu ada konser Casiopea di Indonesia. I won’t die fully satisfied if I never see Casiopea in concert. Their music always makes me feel good. Gue bersumpah bakal melakukan apapun demi bisa nonton konser Casiopea di Indonesia. And it just happened! Dua hari sebelum konser berlangsung, gue bisa dapet tiketnya dari menang kuis di Twitter. Thank God! 😛

Hari itu, dimana orang-orang sibuk membicarakan pemberontakan PKI, gue bersama ratusan penonton konser Casiopea di Indonesia mengantri dari jam 5 sore di depan pintu Skenoo Hall Gandaria City. Setelah kurang lebih 2 jam menunggu, pintu terbuka dan gue pun terpana. Stage set konser Casiopea di Indonesia terlihat sederhana dan tidak neko-neko. Alat-alat musik para personel Casiopea pun sudah terpasang dengan rapi. Gue setengah menjerit melihat Roland Jupiter-50 yang menjadi ‘pegangan’ keyboardist baru Casiopea, Otaka Koyumi. Pasalnya, itu adalah salah satu keyboard terbaru keluaran Roland. Sebagai (mantan) keyboardist, pastinya gue terkagum-kagum melihatnya.

Image

Terduduk cukup lama sampai akhir MC bersama wartawan musik Bens Leo muncul di panggung. Bens Leo sedikit memberi info, konser Casiopea di Indonesia ini menarik sebab mereka terakhir datang ke Indonesia tahun 1986 dan 1991 pada gelaran JakJazz. Dengan jeda waktu yang cukup lama, konser Casiopea di Indonesia kali ketiga ini tentunya mengobati kerinduan para pecinta jazz.

Bens Leo juga menambahkan, kehadiran Casiopea sangat mempengaruhi gaya bermusik musisi Indonesia di era 80-an. Contohnya Karimata, Emerald, bahkan Kahitna yang dengan gaya fussion jazz-nya berhasil menjuarai Yamaha Contest di Jepang.

Penonton kian tak sabar. Bens Leo dan MC pun dipaksa turun agar konser Casiopea di Indonesia bisa segera dimulai.

Sejenak gue terdiam dan terharu melihat wajah Issei Noro saat ia menaiki panggung. Meski rambut dan jenggotnya telah beruban, wajahnya memancarkan kebahagiaan. Sebuah keriaan akan bermusik yang tidak akan pernah padam. He’s a happy man, a happy father, a happy grandfather, and indeed a happy musician.

Gue nyaris berteriak “PAPAAAAAAA!” kepada Issei Noro yang mulai memegang gitar di atas panggung.

Skenoo Hall bergemuruh. Lagu pertama dimulai.

“Dazzling” adalah tembang pertama yang dibawakan Casiopea malam itu. Lagu ini dari album kesembilan Casiopea, Photographs, yang dirilis tahun 1983. Setahun sebelum saya lahir.

Setelah hampir lima menit membawakan “Dazzling”, Casiopea kemudian membawakan “Eyes of the Mind”. Lagu ini diambil dari album kelima Casiopea bertitel sama yang dirilis tahun 1981. Proses pengerjaan album ini sendiri dilakukan di Los Angeles, dibantu oleh drummer jazz ternama Harvey William Mason dan perkusionis legendaris Paulinho da Costa.

Berturut-turut setelah itu, Casiopea membawakan “Aoi Honoh” (1990) dan “Set Sail” (1994). Di antara kedua lagu itu, Issei Noro sempat memberikan kata sambutan dalam bahasa Indonesia terpatah-patah.

“Selamat malam. Kami Casiopea datang dari Jepang untuk Anda. Kami cukup lama tak main di sini, kami kembali dengan anggota baru.”

Saat penonton bertepuk tangan meriah. Saya meneriaki Noro-san,

“NIHONGO DE HANASHITE KUDASAI!” (terj. “Tolong bicara dalam bahasa Jepang!”)

Setelah itu Casiopea kembali membawakan komposisi terbaiknya seperti “Golden Waves” (1997), “Domino Line” (1982), dan “Space Road” (1979).

Setelah membawakan “Space Road”, Issei Noro kembali chit-cat dengan penonton. Sambil guyon, ia mengaku sudah kelelahan meskipun baru membawakan tujuh lagu.

I’m 55 years old,” tambah satu-satunya personel Casiopea yang tidak pernah tergantikan itu.

Image

Tanpa banyak bicara, Casiopea melanjutkan permainannya dengan membawakan sebuah lagu baru yang diberi judul “Arrow of Time”. Lagu yang berarti “Panah Waktu” ini mungkin semacam curhat dari Issei Noro bahwa ia sudah tua dan lelah dengan kehidupan musik yang kian keras. Tapi sama sekali tak terlihat kelelahan itu tergurat di wajahnya. Selama pertunjukan berlangsung, Noro-san tak henti-hentinya tersenyum sambil menunjukkan permainan melodi gitarnya yang cantik dan harmonis.

Setelah “Arrow of Time”, di panggung hanya ada Otaka Kiyomi. Keyboardist yang menggantikan posisi Minoru Mukaiya ini beraksi di atas tuts-tuts keyboard dan organ-nya. Sebelum didapuk sebagai keyboardist Casiopea, Otaka-san adalah pemain solo organ yang sudah banyak bekerja sama dengan musisi dunia, seperti Mike Mangini, Thomas Lang, Gary Novak, dll.

Selama beraksi di panggung, Otaka Kiyomi banyak berkreasi dengan sounds organ dan tone-wheel. Tak salah jika ia di-endorse Roland untuk memperkenalkan Roland V-Combo.

Setelah solo keyboard tuntas, Otaka Kiyomi lalu menemani Issei Noro membawakan tembang melodius “Twilight Solitude” (1984). Lagu manis ini berhasil membuat seisi Skenoo Hall Gandaria City bersenandung. Kalo di Twitter, mungkin hashtag #humming sudah jadi Trending Topic.

Akira Jimbo dan Yoshihiro Naruse kembali naik panggung. Casiopea tampil membawakan lagu “Hoshi-zora” (1985).

Pertunjukan kian seru ketika Akira Jimbo bersolo drum. He is such a refined drummer! Tampil berkemeja ala zebra, Akira Jimbo memainkan suatu komposisi lagu hanya dengan drum dan trigger system-nya. Drummer yang sudah lama di-endorse Yamaha Music ini jago sekali memainkan pattern clave dengan kaki kirinya sedangkan kedua tangan dan kaki kanannya memainkan pattern yang berbeda dalam speed yang sangat cepat. Meskipun cepat, tapi pukulannya tetap halus. Itulah keistimewaan Akira Jimbo sebagai seorang drummer terbaik di dunia.

Image

Setelah tampil solo, tanpa lelah Akira Jimbo menemani rekan-rekannya membawakan “Mid-Manhattan” (1982) dan “Akappachi-ism” (1991). Ada cerita menarik di balik lagu “Mid-Manhattan”. Lagu ini masuk dalam album kedelappan Casiopea, 4×4. Proses pembuatan albumnya sendiri dibantu oleh Lee Ritenour, Harvey Mason, Nathan East, dan Don Grusin yang notabene adalah personel
Fourplay.

Nah, kini giliran Yoshihiro Naruse pamer kemampuan. Setelah “Akappachi-ism”, Naruse-san turun dari panggung dan memainkan solo bass sambil mengelilingi bangku penonton paling belakang. Man, he’s gorgeous! Even without Tetsuo Sakurai, Casiopea is still groove and rock, with amazing skill and sound.

Setelah Yoshihiro Naruse kembali naik ke panggung, “Cry With Terra” (2002) pun mengalun.

Tak ingin kalah, Issei Noro ikut unjuk gigi. Awalnya ia membawakan lagu “Bengawan Solo” ciptaan almarhum Gesang dengan gitarnya, kemudian memainkan beberapa repertoar secara acak dengan petikan gitar yang cepat dan padat.

Noro-san, anata wa sugge! (terj. “Mr. Noro, Anda luar biasa!”)

Lagu favorit penonton pun akhirnya dimainkan. Berturut-turut Casiopea membawakan “Galactic Funk” (1981), “Fight Man” (1991), “Tokimeki“ (1990), dan “Asayake” (1979).

Di lagu terakhir, semua penonton berdiri untuk menikmati beat lagu favorit sejuta umat itu.

Casiopea senang. Penonton senang. Penjual tiket senang.

Selain penampilan Casiopea yang sangat apik malam itu, permainan cahaya di atas panggung juga sangat cantik. Sebelum konser dimulai, gue sempat melihat ke arah tempat lighting control. Ternyata Casiopea membawa teknisi tata lampu sendiri, dan dia adalah seorang perempuan Jepang cantik bernama Yuko Sano.

Image

Setelah mencari tahu, ternyata koordinator tata lampu yang jelita ini bekerja di Entec Sound and Light, sebuah perusahaan jasa tata lampu dan suara bermarkas di London. Wajar saja jika tata lampu pada konser Casiopea di Indonesia sangat cantik. Seperti kamu, Sano-san. *pasang emoticon tutup muka*

MILLI & NATHAN, Dua Nama Untuk Sebuah Harapan

Olive_mn

Percintaan remaja selalu bisa menjadi kisah menarik dengan luapan emosi mendalam. Kisah tersebut akhirnya meledak meninggalkan puing-puing pertanyaan. Dan Falcon Pictures bersama sutradara Hanny R. Saputra mencoba menyajikan aura tersebut lewat film bertajuk Milli dan Nathan.

Film bergenre drama ini sendiri berkisah soal kehidupan sepasang sahabat, Milli Wiriawan dan Nathan Sastro. Bagaimana mereka berdua menjalani tahun-tahun bersama teman-teman di SMA hingga buncahan perasaan yang terealisasi dalam ikatan pacaran.

Milli Wiriawan (Olivia Jensen) adalah karakter yang ceria, ramai, blak-blakan, namun sebenarnya rapuh. Karena bercita-cita menjadi penulis, selepas lulus SMA, Milli menjalani kehidupan kampus dengan setengah hati hingga akhirnya benar-benar berhenti kuliah demi menggapai cita-citanya menjadi seorang penulis.

Kemudian ada Nathan Sastro (Christ Laurent), lak-laki tampan, berprestasi, pendiam, dan ambisius. Meski dikelilingi banyak teman yang selalu menyemangati, Nathan hanya percaya Milli yang bisa membawa perubahan pada hidupnya. Sehingga ketika memutuskan untuk berpisah dari Milli karena diterima di universitas idamannya, hal itu menjadi sebuah kesengsaraan yang begitu nyata kesedihannya.

Hidup pun berlanjut. Milli mulai menapaki tangga kesuksesan sebagai penulis, Nathan yang menjadi seorang ‘tukang insiyur’ pun menikmati pekerjaannya. Meski hubungan yang mereka jalin mulai luntur, mereka berdua masih saling berharap. Akankah mereka bersatu?

Hanny R. Saputra mengulik karakter-karakter yang ada di dalam Milli dan Nathan dengan tajam. Olivia Jensen yang memerankan tokoh Milli, berhasil ‘hijrah’ dari sosok remaja yang tanpa tujuan menjadi seorang dewasa penuh harapan. Tak terkecuali Nathan. Pemilihan busana dan aksesoris yang tepat menjadi salah satu hal yang mendukung kesuksesan transformasi peran mereka.

Meski memiliki sentuhan sensitifitas yang dewasa, emosi yang dipaparkan tampil sangat manusiawi. Skenarionya pun ditulis dengan apik oleh Titien Watimena yang biasa membesut naskah film-film remaja.

Milli dan Nathan juga dibintangi Frans L. Tumbuan, Minati Atmanegara, HIM Damsyik, Mario Lawalata, Fendy Chow, dan menghadirkan Dimas Beck sebagai Guest Star. Direncanakan film ini akan dirilis pada tanggal 23 Juni 2011 di bioskop seluruh Indonesia. Tentunya ini kabar baik bagi pecinta film lokal yang sudah lama mendambakan film berkualitas.

“Setelah matahari, setelah langit, benda yang berwarna cerah adalah harapan.”
MILLI

 

*kesan saat menghadiri Limited Screening film MILLI & NATHAN, 11 Juni 2011 di INDIES Jakarta
*foto dari sini