Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan: Surga Kecil di Kabupaten Banyuasin

Ketika ditanya, “Di mana sih pusat pelatihan gajah di Indonesia?” Sebagian besar orang pasti akan menjawab, “Di Way Kambas.” Memang tidak salah sih. Tapi tahukah kamu bahwa ada Pusat Latihan Gajah (PLG) di Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan?

DSC01167
Gajah Kecil Berbelalai Panjang (Tapi Namanya Bukan Bona)

Gajah, mamalia berbadan besar, berbelalai panjang, memiliki gading, dan terbukti memiliki ingatan yang tajam ini memang selalu menarik untuk menjadi bahan pembicaraan. Penyanyi Tulus bahkan membuat sebuah lagu berjudul Gajah yang di salah satu baris liriknya menjelaskan keistimewaan hewan yang bernama Latin Elephas maximus ini.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi PLG Padang Sugihan. Perjalanan menuju lokasi ditempuh menggunakan transportasi air perahu cepat dengan menyusuri Sungai Musi. Dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 jam, perjalanan cukup membuat saya deg-degan karena baru kali pertama menaiki perahu cepat. Niat hati ingin tidur sejenak dalam perjalanan menuju PLG, namun kenyataan tak sesuai harapan. Saya yang duduk di samping juru kemudi berkali-kali mesti terguncang hebat karena hempasan ombak yang dihasilkan dari perahu cepat lain. Alhasil, sepanjang perjalanan saya terus terjaga dan mengusap-usap dada sambil bergumam, “Gini amat ya hidup?”

DSC01128
Pemandangan Dari Dalam Perahu Cepat

Sebenarnya ada sensasi nikmat yang sulit digambarkan ketika perahu cepat mulai berlayar di perairan tenang. Ingin rasanya saya keluar menuju geladak perahu sambil berteriak, “I’m the King of the World!” sambil diiringi lagu My Heart Will Go On dari Celine Dion.

Sepanjang perjalanan menuju Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan ada banyak pemandangan menarik. Ternyata banyak sekali kapal-kapal yang beroperasi di tengah Sungai Musi. Saya tidak begitu paham, apakah itu kapal tanker, kapal kargo, atau bahkan Kapal Api. Selain itu, kami juga melewati daerah transmigrasi yang dihuni oleh pendatang dari pulau Jawa. Mereka menetap di rumah-rumah panggung yang letaknya berdekatan satu sama lain.

DSC01178
Dermaga di PLG Padang Sugihan

Satu setengah jam pun berlalu dan akhirnya kami tiba di sebuah dermaga kecil di Padang Sugihan. Turun dari perahu, saya sejenak tertegun.

DSC01179
Pemandangan ‘Surga’ di Pusat Pelatihan Gajah Padang Sugihan 

“Inikah surga itu?” gumam saya dalam hati. Batin ingin membenarkan, namun akal sehat menolak. “Woy, lo itu di Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan!”

DSC01139
Menikmati Makan Siang

Setelah menampar-nampar wajah saya sendiri agar kembali tersadar, saya tergopoh-gopoh menghampiri salah seorang petugas di sana.

“Maaf, Pak. Kamar mandi di mana ya? Saya kebelet pipis.”

DSC01141
Para Gajah di PLG Padang Sugihan

Siang itu saya merasa seperti seorang kru produksi film dokumentasi alam liar. Padang seluas 88 ribu hektar itu seakan mengelilingi saya. Dari kejauhan tampak hutan yang lebat. Kawanan gajah sibuk menyantap rumput dan pucuk umbi-umbian yang disajikan oleh pawang mereka dengan lahapnya. Tak peduli ada sekelompok manusia yang terkagum-kagum dengan pemandangan tempat tinggal mereka. Saat itu, saya benar-benar merasa sangat ndeso. Sangat jarang bisa menemui pemandangan ‘surga’ seperti ini.

Apa sih yang menarik dari PLG Padang Sugihan ini?

DSC01149
Pak Jumiran, Kepala Pawang di PLG Padang Sugihan

Perkenalkan, Bapak ini bernama Jumiran. Beliau adalah kepala pawang di tempat ini Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan. Dengan pengalaman 30 tahun menjinakkan gajah, saya yakin beliau pasti bisa bicara bahasa gajah.

DSC01162
Pawang Gajah Beraksi

Di PLG ini terdapat 30 ekor gajah, dimana ada 24 gajah dewasa dan 6 yang masih anak-anak. Uniknya, semua gajah ini memiliki nama layaknya manusia. Ketika dipanggil dengan namanya, gajah yang dipanggil akan mendekati sang pawang. Kata Pak Jumiran, gajah-gajah di sini sudah sangat jinak, bahkan hapal dengan keringat pawangnya.

DSC01161
Kuis: Berapa Banyak Gajah di Gambar Ini?

PLG yang didirikan sejak tahun 1989 ini sebenarnya sebagai solusi mengatasi kumpulan gajah liar yang kerap masuk ke perkampungan dan lahan perkebunan penduduk. Sebenarnya gajah liar tersebut tak salah. Mereka hanya mengingat jalur yang biasa mereka lewati untuk mencari makan. Namun, karena lokasi mereka mencari makanan berubah menjadi hunian warga, maka mengamuklah mereka. Gajah merasa manusia adalah ancaman. Sebaliknya, manusia merasa gajahlah yang harus dibinasakan. Daripada konflik terus berkepanjangan, maka Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan ini didirikan.

DSC01165
Gajah Bermanja-Manja dengan Sang Pawang

Pak Jumiran juga menjelaskan cara yang ia lakukan bersama pawang-pawang lain untuk menjinakkan gajah liar. Dengan mengadopsi metode dari Thailand, gajah liar dijinakkan dengan mempertemukannya dengan gajah pikat agar mudah dikendalikan.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Pak Jumiran, saya berkeliling Pusat Latihan Gajah Padang Sugihan untuk mengambil foto-foto.

DSC01169
Naik Gajah

Tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh bapak-bapak yang ternyata juga seorang pawang. Ia bertanya, “Mau naik gajah gak, Mas?”

Saya tertawa, kemudian menjawab, “Enggak usah deh, Pak. Masa gajah naik gajah.”

Advertisements

Kerja Keras Merestorasi Lahan Gambut Sumsel

Restorasi lahan gambut menjadi salah satu program prioritas Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sejak 2016 dan telah tertuang dalam Peraturan Presiden RI No.1 Tahun 2016 yang salah satu isinya tentang pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG). BRG dituntut untuk menjalankan misi restorasi lahan gambut seluas dua juta hektar dalam waktu lima tahun. Lahan yang direstorasi tersebar di tujuh provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.

 

Dari target dua juta hektar lahan, lebih dari 400.000 hektare berada di Sumatera Selatan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menargetkan upaya restorasi lahan gambut pasca kebakaran dapat terealisasi sebesar 30% atau seluas 140.400 hektare pada tahun 2017.

 

Kalau ditanya, “Memangnya Omkit tau lahan gambut itu kayak apa?” Dengan pasti saya akan menjawab, “Ya enggak tahu dong.” Enggak tahu kok bangga ya?

 

Keawaman saya tentang lahan gambut ini seolah mendapat pencerahan. Pertengahan April lalu, saya mendapat undangan media visit ke salah satu lokasi restorasi lahan gambut yang berada di Sepucuk, Ogan Komering Ilir (OKI). Bersama rombongan lainnya, salah seorangnya ada travel blogger ternama, Deddy Huang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari kota Palembang menuju Kayu Agung. Meski sempat terjebak kemacetan, akhirnya kami tiba juga di hutan gambut. Lebih baik terjebak kemacetan daripada terjebak masa lalu, kan?

DSC01058
Lokasi Restorasi Lahan Gambut di Kabupaten OKI, Sumsel

Setibanya di lokasi, suasana hutan terasa kental. Suara serangga hutan yang khas terdengar ketika memasuki sebuah kawasan hutan gambut ini. Saya mendadak seperti seorang Dr. Indiana Jones yang akan berpetualang memasuki hutan belantara untuk mencari artefak-artefak kuno. Pengalaman pertama ini ke lokasi restorasi lahan gambut ini cukup seru. Setelah turun dari bus, saya merasakan tanahnya sangat empuk. Seperti permen Yuppy. Saya sempat khawatir, tanah ini sebenarnya adalah pasir hisap yang akan menelan siapapun yang menginjakkan kaki di atasnya.

DSC01065
Tim Balai Litbang LHK Palembang dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI

Setiba di lokasi, ternyata kami telah disambut oleh Tim Balai Litbang LHK Palembang dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI. Bapak Bastoni selaku Peneliti Balai Litbang mengisahkan tentang apa yang terjadi pada lahan gambut yang sedang saya pijak ini. Ternyata lahan gambut ini mengalami degradasi, seperti halnya Sunderland dibawah asuhan David Moyes. Sebuah kebakaran hebat melanda area tersebut pada tahun 1997 dan sempat terulang kembali pada 2006. Hutan dan lahan rawa gambut yang terdegradasi berat oleh kebakaran, butuh penanganan serius. Pemulihan atau restorasi secara alami sangat sulit terbentuk dan membutuhkan waktu lama. Lalu bagaimana cara mereka mempercepat merestorasi?

DSC01055

Dari rilis yang dibagikan oleh Balai Litbang LHK, mereka menerapkan teknik silvikultur untuk restorasi lahan gambut di Sumatera Selatan. Teknik tersebut telah berhasil diterapkan untuk merestorasi lahan gambut bekas kebakaran di daerah Kedaton Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada areal seluas 20 hektar.

DSC01057.JPG
Tanaman Ramin, yang kayunya menjadi bahan membuat kayu lapis

Uniknya, lahan gambut hasil restorasi tersebut kemudian ditanami jenis-jenis pohon lokal, seperti Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung rawa (Dyera lowii), Punak (Tetramerista glabra), Perupuk (Lopopethalum javanicum), Gelam (Melaleuca leucadendron), dan lain-lain. Jangan tanyakan ke saya seperti apa jenis pohon-pohon tersebut karena saya buta soal itu.

Dari penjelasan Pak Bastoni, saya merasa lega dan sangat bangga. Apa sebab? Karena kerja keras mereka tentunya akan mengurangi probabilitas kembali terulangnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi 2015 silam. Siapa sih yang ingin kotanya tertutup lagi oleh kabut asap karena karhutla dan memakan banyak korban jiwa karena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)?

DSC01097
Bus Rombongan Media Field Visit

Tapi ada satu hal keren lainnya. Lokasi restorasi lahan gambut ini akan menjadi salah satu lokasi kunjungan dari delegasi 30 negara pada perhelatan The 1st Bonn Challenge Asia Pacific Regional Asia High Level Roundtable pada 9-10 Mei 2017. Tujuan utama terselenggaranya Bonn Challenge ini adalah menjadi forum pertemuan untuk membicarakan cara mengurangi laju deforestasi seluas 150 juta hektar lahan hutan hingga tahun 2020, dan 350 juta hektar sampai dengan tahun 2030.

DSC01112
Lahan Gambut di Kabupaten OKI

Dengan berkunjung ke lokasi restorasi lahan gambut Sumatera Selatan, diharapkan semua kerja keras yang dilakukan oleh Balai Litbang LHK Palembang bisa menjadi percontohan untuk  wilayah lain, sekaligus menegaskan bahwa restorasi lahan gambut bekas kebakaran ini siap diperluas untuk membantu program restorasi gambut nasional yang telah ditargetkan oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo.