Menopang Harapan

Olga-1

Dear, Olga.

Tahukah kamu, huruf “O” pada namamu adalah “Obsesi”? Seorang Utsman bin Affan R.A berpesan, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.” Lalu apa obsesimu? Kalau boleh aku menyarankan, berobsesilah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitarmu, sampai tiba saat kamu tak sanggup melakukan apapun lagi.

Bicara obsesi, bolehkah aku memenjarakan obsesiku padamu? Meski nasib tak menghendaki, harapku akan menopang hidupmu.

Huruf “L” dalam tatanan namamu berarti “Lentera”. Berapa banyak orang yang membutuhkanmu untuk keluar dari gelapnya kebutaan hati mereka? Lentera bukan sembarang lentera, tapi lentera yang jadi penerang sekaligus pemuas kebutuhan cinta.

Bicara lentera, bolehkah aku meminjam lenteramu? Sesekali aku tersandung, butuh terangmu untuk menuntunku.

Beranjak ke huruf “G” untuk kata “Gemas”. Lincah gerakmu, dalam tuturmu adalah rahasia betapa sekedar melihatmu adalah kesederhanaan dari sebuah kebahagiaan. Gemasmu lebih dari pelukan, ciuman, dan rasa suka. Ada emosi unik yang kerap kurindukan.

Bicara gemas, bolehkah aku mencubit pipimu? Merahnya kusebut-sebut sebagai cinta, yang selalu digarisbawahi dalam indahnya asmara remaja.

Ah, huruf terakhir memaksa untuk mengakhiri suratku. “A” adalah “Asa”. Hadirmu adalah harapan, yang meniupkan roh keobsesiannya pada seorang pria yang kini menjadi tokoh pendamping utama dalam kisah hidupmu. Tokoh yang membuatku tersiksa karena bukan aku yang kelak tergeletak kaku di pelukanmu.

Bicara asa, bolehkah aku berbagi denganmu? Tak banyak asa yang tersisa di diriku yang bisa membuatku lepas dari jebakan demoralitas.

Dear, Olga.
Ingatlah, surat ini adalah tonggak sejarah. Sebuah karya terpenting dalam modernitas hati manusia.

Salam,
@omkit

Untuk dokter pujaan kita semua,
Olga Leodirista –@olga_imoet
#30HariMenulisSuratCinta


Foto: Dokumen Pribadi

Advertisements

Escape From Freedom: Desakralisasi Keluarga

Cinita-2

Dear Cinita.
Bila Alvin Toffler mempertanyakan makna keluarga dengan memprediksi bahwa di akhir abad 20 akan ditandai dengan makin melemahnya fungsi keluarga. Justru gue tidak perlu memaknainya. Meskipun tidak dapat dipungkiri arti keluarga semakin sulit didefinisikan, tapi bagi gue, seorang Cinita Nestiti adalah bagian dari keluarga.

Mungkin terlihat seperti sebuah proses desakralisasi, karena meleburkan makna rekan kerja, pertemanan, dan keluarga dalam satu nama.

September 2009, pertama kali kita berkenalan sebagai rekan kerja. Bertiga, rasanya tim kita menjadi tekstur unik dalam perusahaan. Tak lengkap rutinitas kerja tanpa lo dan Male. Sesekali kita memperalat kerja sesuai keinginan dan kondisi. Karena bagi kita bekerja tak hanya pemenuhan nafkah, tapi juga sebagai tempat perteduhan.

Permasalahan datang dan pergi. Bertiga menertawakannya dan menyelesaikannya sebagai solusi.

Ingatkah, Cinita? Ketika Male pergi, kita berdua mengawal tim. Dengan watak dan kepribadian yang bertolak belakang, kita tetap optimis, berobsesi besar untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Kadang kita bergantung dari keberuntungan.

Tapi pekerjaan mulai menjadi ubiquitous, (seakan-akan) terus mengikuti ke mana-mana, dan (seakan-akan) sulit dihindari untuk berhenti terjadi.

Gue mungkin pria yang selalu kalah. Dan akhirnya gue memutuskan untuk pergi meninggalkan lo, sebelum kekalahan berkali lipat didapat.

Maaf, Cinita. Mungkin gue tidak bisa menemani lo lebih lama berlayar bersama tim, memperbaiki dan mendandani tim, tapi meja kerja kita yang menjadi saksi bisu bagaimana petualangan kreativitas kita selama lebih dari dua tahun.

Tapi jalan cerita tetap sama. Lo adalah teman yang setia, serta merta anggota keluarga yang bijaksana. Seperti kata pepatah Tiongkok lama, Keluarga adalah Mutiara. Dan seperti janji gue, sejauh apapun pelaminan lo nanti, pasti akan gue sambangi jua?

Semoga sukses, Cinita. Terkadang ada penolakan dari diri gue untuk melihat lo terus bertahan dengan pekerjaan yang sama. Tapi tidak mengherankan bila justru ada jalan lain yang sedang lo kejar di sana. “Escape From Freedom,” meminjam ungkapan Erich Fromm.

Salam Hangat,

@omkit

Untuk perempuan mungil berpikiran dewasa,

Cinita Nestiti –@cinititi

#30harimenulissuratcinta

Biarkan Intinya Ada di Hati Terdalam: Sebuah Preambule

Pakde
Tahukah, Pakde. Hampir setahun jurnal ini diabaikan. Bahkan mungkin sudah sampai pada puncak dari ekspektasi. Pertemanan kita bahkan sudah hampir menginjak dua tahun. Dan itu jauh dari pengabaian. Meski acapkali terasa utopis, tapi pertemanan kita terus tumbuh meskipun rapuh.

Ingatkah pertama kali kita berkenalan (kembali)? Dua surat elektronik (surel) darimu mengajarkan saya makna pertemanan dan bagaimana menyandarkan diri pada masa lalu hidup. Tampak klise, tapi apa yang Pakde katakan adalah benar adanya.

Mungkin selama ini hidup saya tanpa memiliki konsep yang jelas, logis, dan argumentatif. Tapi surelmu membawa cinta; sebuah paparan dari sebuah proses pengenalan dan penghayatan yang matang dari kesalahan yang terjadi pada perkenalan kita pertama dahulu.

Keskeptisan saya perlahan terkikis, nestapa pun mulai mengapresiasi. Apresiasi itulah yang mengiringi kesabaran Pakde membangun pertemanan kembali dengan saya. Pertemanan yang telah menempuh perjalanan detik demi detik, bukan instan, dipaksakan, apalagi tercipta dari sim salabim atau hocus pocus.

Lepas semua kisah putus-sambung silaturahim kita, kini saya ingin mengapresiasi ide-idemu yang luar biasa. Pakde sering memberdayakan hal-hal kecil dalam kehidupan. Hal-hal kecil yang membentuk diri. Hal-hal yang seringkali terlupakan. Hal-hal yang seharusnya dapat dimaknai dengan cinta dan ketulusan. Hal-hal yang menyatu dalam setiap tarikan nafas. Hal-hal yang seharusnya dapat melahirkan sebuah kontemplasi dan penyesalan diri sehingga hidup tak harus berakhir dengan tragis.

Sesekali, Pakde sering bemain-main dengan kejanggalan. Namun paparan-paparanmu tak perlu ada korelasi antara keyakinan, proses, dan hasil. Kau adalah kau. Karena kau tahu, tak pernah ada kesia-siaan dalam paparan-paparanmu.

Surat ini hanya preambule. Biarkan intinya ada di hati kita yang terdalam, mencoba memuncak meninggalkan jejak dalam sejarah hidup kita.

Salam Hormat,
@omkit


Untuk pria dewasa milik kita semua,
Dedi ‘Pakde’ Rahyudi — @dedirahyudi
#30harimenulissuratcinta

Gambar dari sini – Courtesy of Diki Umbara